Aborsi : Jalan Terbaik Untuk Siapa?

Semalam seorang teman lama datang dengan wajah kusut. Tanpa bertanya, saya memintanya untuk langsung ke kamar. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu saya membuatkan secangkir cokelat panas untuknya dan segelas kopi hitam favorit saya. Feeling saya mengatakan bahwa ini akan menjadi malam panjang, penuh drama dan melelahkan.

Di dalam kamar, Dewi (bukan nama sebenarnya) menangis sembari memeluk lutut. Alih – alih bertanya ‘kenapa’, saya memilih acuh dan meletakkan cangkir cokelat di atas meja lipat. Saya terlalu malas untuk menghadapi drama tangis – tangisan setelah seseorang bertanya ‘kenapa’. Saya pun menyibukkan diri dan kembali tenggelam dalam naskah yang sedang diperjuangkan sampai menyentuh kata selesai.

“Gue hamil!”

Itulah kalimat pertama yang Dewi ucapkan, setelah tangisnya mereda. Kalimat yang cukup membuat saya terkejut, layaknya pria yang telah menghamilinya. Bedanya, saya tidak perlu repot – repot menyangkal kenyataan seperti kebanyakan pria.

“Serius, lo!? Terus gimana?” tanya saya.

Dewi menggelengkan kepala. Dia bingung dengan kenyataan yang baru menyapanya. Saya ingin berempati, namun hati kecil saya berkata bahwa Dewi sama sekali tak perlu dikasihani. Dewi seperti itu, murni karena kebodohannya.

“Gue mesti gimana?” Dewi balik bertanya.

Air mata mengalir putus asa. Saya tersenyum miris. Dalam hati, saya merasa tidak seharusnya Dewi mengajukan pertanyaan demikian – tidak pada saya ataupun orang lain. Kenapa? Karena, saat Dewi memutuskan untuk berhubungan intim dengan kekasihnya, dia tidak bertanya apapun pada saya. Lalu, ketika mengandung, mengapa dia bertanya ; ‘Gue mesti gimana?’

Saya dan kamu sama – sama tahu, bahwa berhubungan intim dengan lawan jenis itu beresiko kehamilan pada perempuan. Membuat kamu dan dia dapat memiliki keturunan. Bukankah peraturannya cukup sederhana; jika kamu tidak mau hamil, maka jangan berhubungan intim.

“Aborsi aja” saran saya, pendek.

Tatapan Dewi yang mulanya sendu, berubah nyalang.

“Enteng banget jawaban lo!” sahut Dewi, sinis.

Saya terkekeh. Saya sadar bahwa solusi yang saya berikan begitu enteng, padahal Dewi sebagai calon ibu, mati – matian mencari jalan terbaik untuk semuanya. Berbeda dengan saya, hanya pendengar yang tidak tahu bagaimana perasaan Dewi saat ini.

Sebentar kawan…

Saya bukan orang yang buta soal hukum. Saya tahu ada undang – undang yang mengatur tentang aborsi. Aborsi hanya diperbolehkan untuk dua kondisi kehamilan saja, yaitu ; kehamilan karena perkosaan dan aborsi karena darurat medis. Aborsi kehamilan karena hasil perzinahan dan gagal KB termasuk pada aborsi ilegal. Berdasarkan UU kesehatan pasal 194, orang yang sengaja melakukan aborsi ilegal diancam dengan hukuman penjara paling lama 10 tahun dan denda 1 milyar rupiah.

Melahirkan dan membesarkan anak yang saat ini berada dalam kandungan, sudah pasti menjadi pilihan yang terasa mudah. Memangnya siapa yang mau dipenjara 10 tahun dan didenda 1 milyar rupiah? Pilihan termudah dan juga sesuai dengan aturan yang ada. Saya termenung cukup lama. Berputar dalam bayangan tentang anak – anak yang akankah bahagia atau bersedih dengan pilihan itu? Apakah pilihan termudah itu merupakan pilihan terbaik untuk anak? Belum tentu.

Saya pernah bertemu dengan seorang anak yang lahir dari kedua orang tua dungu. Maaf jika saya tidak sopan. Saya hanya tidak tahu cara mengutuk yang benar. Dede (bukan nama sebenarnya) baru berusia 10 tahun dan dia mengalami depresi yang membuatnya beberapa kali mencoba bunuh diri. Kelahiran Dede selalu dipersalahkan oleh kedua orang tuanya. Ayahnya terus menerus memaki Dede, karena beliau merasa Dede adalah penyebab dirinya terkurung dalam peran pemberi nafkah. Ibu Dede sendiri merasa Dede adalah sumber masalah hidupnya yang membuatnya terikat pada pria miskin, kurang berusaha dan banyak memaki.

Saya heran dan bertanya –tanya dalam benak ; Mengapa orang melakukan hubungan intim saat berpacaran, jika tidak mau terjebak dalam ikatan pernikahan? Mengapa mereka berhubungan intim, jika tidak mau memiliki keturunan? Mengapa orang memilih melahirkan ketika aborsi bisa menjadi pilihan? Bukankah melahirkan Dede adalah keputusan yang mereka ambil? Lalu, mengapa pilihan mereka itu menjadi kesalahan Dede? Tidakkah mereka sadar bahwa kehadiran Dede sejak awal adalah kesalahan mereka. Kesalahan sepasang kekasih yang mengedepankan nafsu daripada otak.

Saya sangat menyukai anak – anak dan kisah Dede, telah membawa saya pada pemikiran, ‘jika sejak awal ragu untuk membesarkan anak dalam kandungan, lebih baik aborsi saja’. Jangan sampai ada anak – anak yang lahir dan hidup seolah menanggung dosa. Dosa yang sejatinya berasal dari kedunguan orang tuanya.

Bukan saya ingin menyalahi aturan yang sudah ditetapkan. Saya ingin kita sama – sama belajar dan berpikir dewasa sebelum melakukan tindakan yang merugikan seperti ini. Saya juga tidak mendukung aborsi sepenuhnya, karena aborsi (bagi saya) adalah tindakan pembunuhan. Saya hanya berpikir; bukankah anak (yang tidak diharapkan) itu lebih baik tiada, sehingga dia tak perlu menanggung amarah dari kedunguan orang tua yang nafsuan?

Saya rasa aborsi adalah pilihan terbaik untuk anak yang tak diharapkan kehadirannya. Selain itu, kamu dan dia menjadi tidak punya alasan untuk terikat di saat belum siap membangun rumah tangga? Ah, dengan otak nafsuan, saya khawatir kamu dan dia tidak mengerti dengan apa yang saya tuliskan, sehingga saya merasa perlu menegaskan bahwa ; Aborsi, bisa jadi jalan terbaik untuk anak yang tak diharapkan dan juga kalian yang mengedepankan nafsu. Perlu diingat juga, aborsi adalah perbuatan yang melawan hukum Tuhan dan undang – undang. Perlawanan yang membuat kamu akan mendapatkan sanksi sosial.

Hey, tidakkah seharusnya menjadi orang tua memerlukan sertifikat khusus?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s