Pertama Kali Bertemu Dia

Disebuah mini market 24 jam, aku menangisi nilai Perancangan Arsitektur. Nilai yang tentu saja tidak diharapkan hanya karena dosen tidak menyukaiku.

Ah… Lagipula, apa yang bisa kau harapkan dari lingkungan yang tidak kau sukai ?

Mengatakan apa yang berada dipikiranmu, tidak selalu baik dan tidak selalu benar. Kekuasaan bisa membolak – balikkan segalanya. Pada kasusku, aku menyampaikan sudut pandang lain tentang ‘masuk teknik Arsitektur itu harus kaya’. Mungkin nada suaraku terlalu menyemburkan amarah daripada maksud yang ingin ku sampaikan. Ku katakan dengan sarkas ‘oh, gitu, pak? Kirain biar kaya’.

Aku memang bukan anak orang kaya seperti kawan – kawanku. Tak pernah aku mengikuti perkumpulan mereka yang tidak ramah di dompetku. Ku nikmati setiap hari berdiam diri di perpustakaan atau studio yang kosong. Tak pernah ku anggap gurauan dan pandangan kawan – kawan tentangku, sampai dosen itu merendahkan aku yang miskin.

Tak pernah ada orang kaya yang mau membela si miskin adalah yang satu hal yang aku simpulkan saat penghinaan itu ku dapatkan. Si miskin hanya perlu menjaga dirinya sendiri dan tidak berdekatan dengan si kaya ataupun orang yang memiliki kekuasaan dalam bentuk lain.

Hari berganti hari. Tak kusangka, nilaiku akan menjadi D. Ketika ku tanyakan alasannya, si penguasa itu menjawab dengan kalimat merendahkan lainnya, “mungkin kamu memang tidak pantas di PA 4”.

Aku pun mempertanyakan keadilan. Bagaimana bisa aku tidak pantas, sementara teman satu kelompokku yang jarang hadir dan bahkan tidak mengumpulkan maket, mendapatkan nilai B.

‘Dia orang kaya’ bisikku pada diri sendiri yang mengutuk kemiskinan.

Jika kamu katakan aku tidak bersyukur, kamu benar. Aku tidak sadar bahwa itu adalah hal yang pada akhirnya membuatku masuk ke dalam sebuah dunia baru. Dunia yang bising, mendebarkan dan bisa di bilang menantang kematian.

Kamu…

Kamu menyapaku dengan hangat dan melihatku dalam kondisi paling buruk. Kamu si orang asing yang entah mengapa tak menimbulkan kekhawatiran dan membunyikan sinyal waspada pada diriku. Kamu yang membawaku, naik di motormu dan membelah jalan dengan suara bising dari knalpot racing yang kau pasang.

Kamu mengeringkan air mataku tanpa kata – kata penghiburan. Kamu menawariku bergabung dan mengajariku mengendarai sepeda motor.

Hei…

Aku masih ingat kebodohanku yang mengerem dengan sendal jepit! Hahaha…

Kamu bilang aku bodoh, tapi aku tak tersinggung. Aku tertawa dengan kebodohan itu. Itu adalah pertama kalinya aku bahagia dalam hidupku. Aku merasa bebas dan tak berbatas.

Berkat dirimu, aku bertemu banyak orang – orang baik. Orang – orang yang tidak memandang orang lain berdasarkan uang disaku mereka. Orang – orang yang pada akhirnya membantuku, bebas dari belenggu dan membukakan jalanku untuk mendapatkan pekerjaan.

Kamu adalah seseorang yang benar – benar merubah duniaku. Menjadikan aku lebih tangguh dalam menjalani hidup. Kamu memang terkadang menyebalkan, karena membatasi beberapa hal yang aku sukai. Kita pernah bertengkar hebat. Saling mencaci, saling membenci. Lalu, rindu menjadikan kita kembali bersama.

Kamu selalu datang dengan senyuman dan sejuta keluhan tentang hidupmu yang awut-awutan. Kita saling menguatkan sampai akhirnya aku harus kuat sendirian.

Sampai jumpa, kawan…

Berbahagialah disana dan terima kasih untuk semua pintu yang telah kau buka kan untukku :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s