Cerita yang pernah ku banggakan

Ada sebuah tulisan yang sengaja saya ketik untuk membela kami si anak broken home. Anak – anak yang bertarung dengan stigma masyarakat dan label negatif yang kami sandang.

Mau kah kamu membacanya?

Kami si Anak Broken Home

“Anak broken home” adalah label yang orang – orang berikan setelah orang tua kami resmi bercerai. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan adanya kutukan masyarakat pada kami anak – anak yang orang tuanya berpisah. Kutukan yang menjadikan kami anak – anak yang tidak utuh sebagai manusia. Kami selalu dipandang sebagai manusia kelas bawah, karena tidak menerima kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Pandangan yang membuatku tersadar, bahwa menjadi anak – anak dari orang tua tunggal adalah sebuah kecacatan hidup bagi kami semua.

Sebagai anak – anak, kami tak pernah memilih untuk hadir diantara dua orang yang kelak akan bercerai. Kami juga tidak bisa bersuara, ketika orang tua kami bertikai. Air mata yang mengalir tak pernah cukup untuk membuat mereka berdamai. Tak ada yang mau mendengar, tak ada yang mau mengerti dan kami dilabeli sebagai anak yang kurang kasih sayang. Anak – anak yang dipandang selalu mencari kesenangan diluar rumah dan masuk kedalam pergaulan buruk.

Perceraian orang tua kami, seolah membuat kami menjadi anak – anak yang pincang dan juga tak bermoral. Kami dinilai sebagai anak – anak pembuat onar dan haus kasih sayang. Entah, sudah berapa orang yang mengasihani kami. Orang – orang yang seolah bersimpati pada kami, namun nyatanya mengatakan kami adalah anak – anak yang akan mencari perhatian dan terjerumus dalam jurang kenistaan.

Orang dewasa selalu memukul rata perasaan kami, hanya karena mereka pernah seumur kami. Mereka lupa, bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Tidak semua anak yang dibesarkan satu orang tua, menjadi anak yang haus kasih sayang. Menjadi anak berandalan ataupun binal. Bagaimana jika kami justru menjadi lebih bahagia dengan tanpa kehadiran salah satu orang tua kami?

Sekali saja, tolong anda bayangkan perasaan kami yang remuk redam dalam setiap pukulan yang dilayangkan pada salah satu orang tua kami. Bayangkan ketika, ancaman demi ancaman disuarakan dengan lantang bersama pukulan bertubi – tubi, tiada henti. Segala sumpah serapah dimuntahkan secara membabi buta. Membuat pembendaharaan kata umpatan kami menjadi lebih banyak, lebih liar.

Tidak semua orang dewasa memiliki kedewasaan. Beberapa hanya diberkahi umur yang berada dalam kategori dewasa. Kurangnya kedewasaan dari orang dewasa inilah yang sesungguhnya menjadi sumber kekacauan anak – anak. Sekolah pertama anak adalah orang tua dan ketika orang tua tidak dewasa, apa yang terjadi pada anak – anak ? Apa yang mereka contoh dari orang tua mereka? Saling melempar kesalahan dan merasa benar secara terus – terusan tanpa mau mengalah.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar sebuah mitos tentang anak broken home yang pasti akan mengulang perceraian seperti orang tuanya. Sebuah mitos yang membuat orang tua dalam keluarga harmonis tidak sudi menikahkan anaknya dengan si ‘anak broken home’. Sebuah pertanyaan, saya ajukan pada diri sendiri ; ‘Apakah kamu akan menikah untuk bercerai?’

Saya rasa tidak ada seorang pun yang memutuskan menikah dengan tujuan bercerai. Saya yakin, anak – anak broken home adalah anak – anak yang paling tidak menginginkan perceraian. Mereka adalah manusia yang tahu betul betapa menyakitkannya dikhianati, ditinggalkan, diabaikan dan juga disalahkan. Ketika mereka menikah, tentu mereka adalah anak – anak yang ingin membangun rumah tangga harmonis. Beberapa anak tentu bisa belajar dari masa kelam orangtuanya, tapi beberapa bisa juga mengulang kesalahan orang tuanya.

Sayang, kami sebagai anak broken home selalu dipandang akan mengulang sejarah kedua orangtuanya. Kami sulit mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kami berbeda. Bahwa kami tak ingin mengulang sejarah yang telah menjadikan kami anak – anak yang cacat. Sampai akhirnya, saya termenung untuk beberapa saat dan mengingat –ingat pola perceraian yang terjadi. Sebuah pola yang kemudian saya sadari, bahwa itu berasal dari perasaan kami ‘ibu bapak gue juga cerai dan gue gak apa – apa tuh’.

Meskipun begitu, tidak pantaskah kami mencoba melawan pola perceraian itu? Tidak pantaskah kami hidup sebagai manusia normal? Haruskah kami menjadi anak yang pincang hanya karena orang tua kami tidak utuh? Tidak bolehkah kami bahagia dengan tidak mendengar lagi teriakan amarah dan juga kesakitan?

Tanpa kami tahu. Tanpa kami mengerti. Hidup telah berlaku keras pada kami.

■ ■ ■

Begitulah tulisan yang sempat saya banggakan dan saya harapkan bisa menanggalkan label negatif pada anak – anak broken home.

Sebuah tulisan yang membuat teman saya tersenyum sinis dan kening saya berkerut.

“Gue turut berduka dengan stigma masyarakat pada anak – anak yang orangtuanya bercerai. Lalu, kenapa kalau orangtua lo bercerai? Lo merasa jadi orang paling tersakiti? Terdzolimi?”

Saya terdiam, meresapi setiap kalimat tanya yang diajukannya.

“Lo lupa, bahwa ada anak – anak yang benar – benar dicampakkan. Anak – anak yang diletakkan dimana saja, karena kelahirannya dianggap sebuah aib dan sumber masalah”

Air mata saya menggenang dan hati saya terasa sakit seketika. Saya lupa bahwa saya memamerkan tulisan duka pada seorang anak yang tak mengenal siapa orangtuanya. Seorang anak yang ditemukan di tempat pembuangan sampah dalam keadaan nyaris mati.

“Maaf” hanya itu yang bisa keluar dari bibir saya.

“Tenanglah. Aku rasa, tuhan mempertemukan kita agar bisa saling mensyukuri. Seperti kamu yang dapat bersyukur, karena mengetahui siapa orangtuamu dan aku dapat bersyukur, karena tidak memiliki kenangan tentang orangtua yang bisa melukai hidupku”

Saya mengangguk, setuju. Dia tersenyum sembari menepuk punggung saya. Hari itu adalah hari yang membuatku belajar bersyukur dan menerima semua yang terjadi dalam hidup ini 🙂

Terima kasih sudah membaca…

Semoga ada yang bisa kamu pelajari dari apa yang telah saya tulis dan telah kamu baca ini 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s