Siap Nikah?

Banyak orang berpendapat bahwa menikah adalah sebuah babak baru dalam hidup yang perlu diraih, dirayakan, diagungkan dan dipamerkan. Pernikahan itu serupa perayaan kebebasan dari hidup di bawah kendali orangtua yang banyak aturan dan tuntutan itu lho.

Whopps! Hahaha…

Sebetulnya saya bingung, kenapa orang – orang begitu sibuk bertanya ‘kapan nikah’ pada orang – orang yang belum menikah? Seharusnya, ini bisa dimasukan kedalam kategori penghinaan, di mana penghinaan itu adalah perbuatan tidak menyenangkan. Dalam hukum pidana,perbuatan tidak menyenangkan, diatur dalam BAB XVIII Tentang Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang, Pasal 335 KUHP. Beruntung pasal karet tersebut sudah di hilangkan.

“KENAPA KAMU MENIKAH?”

Hei, tidakkah terdengar lucu, jika seseorang bertanya ; ‘Kenapa kamu menikah?’ Rasanya pertanyaan itu tak perlu dijawab, karena sudah jelas orang menikah itu sudah memiliki pasangan. Entah sudah lama berpacaran atau merasa sudah cocok dan tidak perlu menunggu apa – apa lagi. Ada juga yang merasa sudah cukup umurnya, sudah mapan, sukses dan siap nikah.

Wait… Siap nikah?

SIAP NIKAH ITU APA SIH?

Dalam KBBI, siap adalah sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja), sedangkan nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Jadi, bisa disimpulkan siap nikah adalah sebuah kesiapan untuk melakukan ikatan perkawinan.

SESEDERHANA ITUKAH UNTUK MENIKAH?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin memperkenalkan kamu pada seorang teman yang sudah saya kenal lama. Dia adalah seorang pria mapan, tampan dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan akbarnya. Hoho… saya sebut pernikahan akbar, karena teman saya ini sudah lama menantikan bergantinya status lajang di KTP-nya. Well, kita beri dia nama samaran, Ilham!

Ilham baru melamar kekasihnya yang baru dipacarinya selama enam bulan dan dia merasa mantap untuk melanjutkan kejenjang pernikahan. Sebagai teman, tentu saja saya berbahagia, meski rasa khawatir selalu hadir dalam benak. Saya khawatir akan kehilangan seorang teman, lagi #hiks.

Setelah acara lamaran beberapa waktu lalu, Ilham sering menghubungi saya. Dia mengeluhkan segala macam persiapan untuk menikah. Persiapan yang tidak hanya menguras uang, tapi juga waktu dan tenaga. Perselisihan kerap terjadi diantara Ilham dan calon istrinya. Bukan hanya sekali, Ilham berkata, ingin mengakhiri rencana pernikahan yang membuatnya stress itu.

Saya mengangguk dan berpendapat, “ya, sudahi saja”. Pendapat yang tidak saya sangka menimbulkan prasangka bahwa saya menaksir teman saya ini #hatcim :))

Tenang, ilham tidak membatalkan pernikahannya, kok. Dia tersentak dengan komentar yang saya ucapkan. Komentar yang tidak senada dengan komentar lainnya, dia bertanya mengapa saya berkata semudah itu (tanpa menyadari bahwa dia lah yang membuat kalimat itu mudah terucap).

Sebagai wanita yang pikirannya sangat ribet tentang pernikahan dan doyan ngemil menyan, saya tentu sudah memiliki gambaran pernikahan yang tidak sebatas resepsi. Ketika mengurus persiapan untuk resepsi saja kamu sudah kewalahan dan ingin menyerah, bagaimana saat harus beradaptasi dengan kehidupan rumah tangga? Kamu akan mengemban tanggungjawab baru dan harus bisa beradaptasi dengan situasi yang baru kamu alami, lho.

Bayangkan saja, kita bersama adik atau kakak saja, bisa terus – terusan bertengkar karena hal yang sama, apalagi dengan orang yang baru setahun atau dua tahun kita kenal dan tiba – tiba tinggal serumah ? Kita akan dibuat terkejut dan mungkin membuatmu kehabisan akal sehat dengan perilakunya yang belum pernah kita lihat selama ini. Jika sudah begitu, apakah kamu akan dengan mudahnya mengatakan ingin bercerai?

“Ya gak mungkin lah! PARAH!” Kata kamu yang mungkin berharap bisa noyor aku saat ini :))

Mengingat biaya resepsi yang telah dikeluarkan, umur pernikahan yang baru berapa bulan, dan mungkin perut pasangan yang mulai berisi, memang tidak mungkin untuk mengatakan bercerai seperti itu. Tapi, akan sampai kapan kamu bisa bertahan? Apakah kamu cukup yakin untuk bisa terus bersabar seumur hidupmu? Kamu yakin dia bisa berubah? Memangnya dia power ranger? Seberapa besar pengaruhmu di hidupnya? Jika dia tidak berubah juga, apa tindakanmu? Bercerai atau jarang pulang kerumah. Memangnya kalau jarang pulang kerumah menjadikan kamu aman dari angin perceraian?

Hehe… jadi merambat kemana – mana yaa~

Baiklah, apakah untuk menikah itu sederhana? Tentu saja sederhana — kalau kamu dan pasanganmu adalah orang yang dewasa, bukan anak – anak yang SD yang main mama-papa :p

Nexttt….

ADAKAH SYARAT DASAR UNTUK ‘SIAP’ NIKAH?

Beberapa teman yang saya ajak chat mengenai siap nikah, mereka lebih berpendapat, selain sudah memiliki pasangan, harus mapan dan usia yang sudah seharusnya menikah 😮 :))

Dalam lingkup pertemanan saya, siap nikah itu masih sebatas resepsi. Mereka tidak ada gambaran sama sekali tentang kehidupan berumah tangga. Beberapa ada yang sempat ikut semacam penyuluhan tentang pra-nikah dan komentar dari mereka hanya ‘ya gitu we’. Komentar ngambang dan cukup membuat saya malas bertanya lebih lanjut.

Jika kamu bertanya pada saya tentang syarat dasar siap nikah, saya akan dengan senang hati menjawab seperti yang teman – teman saya katakan ; memiliki pasangan, mapan, dewasa, dan berakal sehat.

Itu saja?

Yep, itu saja syarat untuk siap nikah. Gak ribet dan bikin ngiler kannn :))

JADI TUNGGU APA LAGI?

BURUAN NIKAH!

Tunggu apa? Tunggu kamu melamar dong!
Wakakakakak…..
Sorry, jadi kayak kode XD

JADI, KAMU SUDAH SIAP NIKAH ?

Siapapun yang merasa usianya sudah cukup, mapan dan memiliki pasangan, sudah pasti menjawab dengan mantap, ‘Ya, saya sudah siap nikah’. Lalu, apakah saya memiliki jawaban berbeda ? Tentu saja tidak, saya juga siap nikah, kok :p

Persyaratan untuk siap nikah itu sama sekali tidak ribet dan tidak ada alasan untuk mengatakan saya tidak siap untuk nikah. CUMA… Saya merasa belum siap untuk mengambil tanggung jawab sebagai istri dan menjadi orang tua.

EH !?
Kumaha sih ieu teh??
Hehe… tarik nafas dan hembuskan dulu, yaa~

Hmm…
Menikah bukanlah sebuah langkah yang harus diambil demi menjawab pertanyaan basa – basi ‘kapan nikah?’. Menikah adalah sebuah langkah besar dan isinya bukan hanya ada kamu dan dia saja. Menikah itu menggabungkan dua keluarga menjadi satu. Membuat kamu dan dia sama – sama mendapatkan keluarga baru. Kamu harus beradaptasi dengan keluarga dia dan dia harus beradaptasi dengan keluarga kamu. Kamu dan dia juga harus beradaptasi memikul tanggung jawab baru sebagai suami dan istri. Setelah memiliki anak, kamu dan dia beradaptasi lagi bagaimana menjadi seorang ayah dan ibu.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan juga indah. Sesuatu yang saya pribadi impikan terjadi sekali untuk seumur hidup dan jauh dari meja hijau. Pernikahan adalah sebuah pintu untuk menuju ‘masalah’. Loh, kok masalah? #UHUK

Jujur saja, bagi saya menikah bukanlah perkara mudah sekalipun saya sudah siap menikah. Saya harus berpikir panjang mengenai berbagai tanggung jawab baru. Saya perlu bertanya – tanya tentang kesiapan saya mengurus seseorang selama sisa hidup saya. Apakah dia bisa saya ajak bekerjasama untuk menyelesaikan masalah yang pasti akan timbul di antara kami? Apakah saya bisa beradaptasi dengan segala kebiasaan dan keanehannya? Apakah dia bisa menerima saya yang serba ingin tahu dan kadang – kadang melewati batas normal?

Seandainya nanti seorang anak dihadirkan diantara kami, apakah saya dan dia bisa berkerjasama untuk membesarkannya? Apakah dia bisa menerima cara saya mendidik anak? Apakah saya bisa menerima caranya mendidik anak? Apakah kami bisa berkompromi dengan baik untuk mendidik anak?
Jika ada sesuatu yang membuat kami berselisih, dapatkan kami menyelesaikannya bersama? Apakah kami akan bisa tetap memelihara keintiman dalam hubungan kami? Mampukah kami tetap saling mempercayai satu sama lain? Mampukah kami berkompromi dengan segala sesuatu yang tidak kami sukai? Mampukah kami tetap saling terbuka dan mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan baik, hingga menemukan penyelesaian bersama? Mampukah kami menjaga komitmen kami?

UDAH, JALANIN AJA DULU!

Ketika saya bercerita panjang lebar, mengemukakan segala kekhawatiran saya tentang pernikahan dan tanggung jawab baru yang mesti dipikul, mereka menanggapinya dengan enteng ‘Jalanin aja dulu’. Kamu tahu, saya ingin sekali mengoncang – goncangkan kepala mereka untuk memastikan kepala mereka ada isinya ==a

Saya tidak bisa membayangkan kehidupan saya yang kacau, karena menikah hanya dengan modal siap dan jalanin aja dulu.

Pliss atulahh…

Jika aku dan kamu, menikah hanya karena sudah siap nikah, tanpa siap menjadi istri apalagi seorang ibu, apa yang kira – kira terjadi pada kehidupan saya? Kehidupan kamu? Stres? Depresi? Bunuh diri? Menyalahkan suami? Menyalahkan anak?

Menyakiti perasaan anak adalah kemungkinan yang paling menyedihkan, tapi sering terjadi dan sulit dihindari. Anak adalah jiwa yang paling lemah dan mudah untuk disakiti  😦

JADI, ALASANMU MENIKAH ADALAH….

Yang jelas bukan karena sudah siap nikah, sudah umurnya, sudah ada pasangan dan kesudahan lainnya.

Orang –orang boleh saja tertawa, mendengar pertanyaan bodoh saya tentang alasan mereka menikah. Orang – orang yang memberikan jawaban standard, semisal : sudah lama berpacaran, saling mencintai dan kalau udah cocok ngapain lama – lama pacaran. Semua orang memiliki jawaban dan pertimbangan masing – masing tentang alasan mereka memutuskan menikah. Namun, saya tidak ingin memberikan alasan sekedar dari perasaan saja. Perasaan itu mudah berubah, bahkan cinta sejati saja hanya berupa ilusi, jika dilontarkan di awal hubungan.

Siap nikah dan siap memikul tanggungjawab baru adalah hal yang berbeda. Menikah tidak hanya persoalan gengsi untuk mengadakan resepsi, tapi tentang bagaimana merawat hubungan yang sudah terikat janji suci pernikahan.

Saya tidak mau anak – anak saya mendengar sebuah kisah yang dibuat – buat dan dirasa romantis untuk diceritakan. Saya tidak mau membuai mereka dengan rangkaian peristiwa manis, yang membuat saya mengiyakan tawaran seseorang untuk mendampingi hidup saya.

Jika seseorang bertanya, alasan saya akhirnya memutuskan menikah, saya akan memberikan jawaban : “karena dia saya nilai mampu diajak bekerjasama untuk menjalani hidup bersama”. #uhuk #ciee XD

Namun, seandainya komitmen tersebut tidak berlangsung selamanya, saya bisa menjawab “ternyata kami tidak bisa bekerjasama untuk menjalani hidup bersama” :p

Aku butuh kamu, kamu butuh aku. Tapi, hubungan cinta itu butuh skill dan berumah tangga itu butuh kerjasama. Tidak hanya aku dan kamu melulu, karena itu bisa membuatmu menangis pilu 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s