Obrolan pagi ; Ar-Rahman

“Kenapa Ar-Rahman?” tanya seorang pria yang menolak saya panggil Ustadz.

Saya tersenyum dengan ingatan yang memutar kenangan saat tangisan dan juga senyuman bahagia, karena sebuah ayat dalam surah Ar-Rahman. Sebuah ayat yang diulang – ulang sebanyak 31 kali itu sempat membuat saya muak dan juga jatuh cinta.

“Seperti yang pernah saya ceritakan, jalan yang saya pilih ini, sesuai ajaran Islam tapi bertolak belakang dengan pengetahuan yang saya miliki”

Pria yang menolak dipanggil ustadz itu mengangguk, dia tahu pemikiran saya dalam hal relasi cinta. Hmm… jujur saja, saya ini jarang cocok dengan seseorang yang tahu banyak tentang agama, karena banyaknya yang langsung naik pitam dan mengeluarkan jurus hadist berserta penghakiman.

Kebetulan, saya ini menyandang label ‘anak gagal atheis’ dan untuk menjaga saya tetap gagal, tentu saya butuh orang – orang yang tidak memiliki jurus hadist dan penghakiman itu. Jadi, saya membatasi diri untuk bertanya ini itu pada orang-orang yang bisa membuat saya sukses menjadi agnostik 😀

” Nikmat mana lagi yang kamu dustakan. Tidakkah itu bagus diingat untuk meredam segala amarah dan juga kecewa yang hadir dalam sebuah rumah tangga?” lanjut saya, diakhiri dengan pertanyaan dan juga pernyataan.

Pria dihadapan saya itu tersenyum sembari mengangguk – anggukan kepalanya.

“Menarik! Saya kira, kamu ingin viral di dunia maya, mengingat kamu pun tidak bersedia di adakannya resepsi”

“Hahahaha…..” tawa kami pecah.

“Nanti, jangan lupa bantu like dan share ya, ka Us!” kelakar saya yang sedikit ngeri dengan komentar netizen masa kini.

“Entah kenapa, saya tersentuh dengan alasan kamu menginginkan ar-Rahman. Membayangkan segala sesuatu yang terjadi akan dilihat sebagai nikmat” ucap pria yang menolak saya panggil ustadz.

“Manusia tidak ada yang sempurna. ‘Fa bi ayyi ala’i robbikuma tukazziban‘ lah yang akan membuat dia sempurna, sekalipun dia akan membuat kepala saya meledak. Insya Allah…” sahut saya, membayangkan kepala yang meledak menahan kesal.

“Dan saya percaya, pria yang kelak menikah denganmu itu benar – benar beruntung. Kekhilafan yang dia buat hanya akan kamu terima sebagai sebuah nikmat”

“Dan mungkin saya menjadi tidak beruntung jika dia terus – terusan khilaf” kata saya, cemberut menelan pil kesabaran.

Pria yang menolak saya panggil ustadz itu tertawa melihat saya yang cemberut. Tawa yang kemudian menular dan membuat saya tertawa juga.

Fa bi ayyi ala’i robbikuma tukazziban…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s