​TAK ADA HIDUP SEMPURNA

Sudah pernah mendengar lagu Lari dari Realita milik Sherina Munaf? 

Saya suka sekali lagu itu dan sengaja saya putar sambil menuliskan ini. Sesekali saya memejamkan mata dan mencoba mengingat kejadian yang seharusnya tidak diingat kembali.

Saya pernah mengenal seorang anak perempuan yang bertumbuh dalam tekanan ayahnya. Ayah yang membenci kenyataan bahwa anak pertamanya adalah perempuan. Jika anak perempuan lain sedang bermain masak-masakan dengan teman-temannya, ayah anak lain akan senang melihat anaknya bermain selayaknya anak perempuan pada umumnya. Tapi, tidak dengan anak perempuan yang saya kenal itu. Anak perempuan yang mainan masak-masakannya ditendang hingga mengenai tubuh kecilnya. Wajahnya basah dan tumbuhan yang dikenal dengan ‘mie-miean’ itu menepel di pakaiannya. 

‘Ah, ada yang lebih parah lagi daripada anak perempuan itu’

Mungkin, begitu batinmu dan kamu benar. Ada yang mendapatkan perlakuan lebih parah lagi daripada itu. Ada anak yang bahkan dipaksa mengemis demi bisa mengisi perut yang lapar. Ada anak-anak yang harus menerima pukulan bertubi-tubi dan bahkan ada juga yang dijual, karena dianggap membebani.

Beberapa orang, memiliki keberuntungan untuk hidup di tengah keluarga yang harmonis. Mereka hidup dengan orangtua yang tahu betul bagaimana bertanggungjawab dan mencurahkan kasih sayang mereka kepada anak-anaknya.

Saya memaklumi beberapa orang yang menyerang dengan nada mengingatkan tentang ‘tidak ada jasa orangtua yang minim.’ Saya tidak mengemukakan pendapat saya di depan mereka secara langsung dan hanya tersenyum dengan satu sudut bibir saja yang terangkat. Dalam hati, saya meringis dan rasanya ingin membawa mereka ke dalam situasi yang berbeda dari kehidupan sempurna mereka.

Dengan mudah mereka melabeli anak-anak yang tidak membalas jasa orangtua, seperti yang mereka lakukan itu dengan label ‘anak durhaka’.

Berpikir bahwa ibu melahirkan anaknya itu sebuah pengorbanan besar dan taruhannya nyawa, tentu tidaklah salah. Ayah bekerja, memberi nafkah untuk memelihara kita sejak kecil hingga besar juga tidaklah salah. Tapi, apakah semua anak diberi nafkah dan kasih sayang seperti yang kamu dapatkan?

Sayangnya tidak begitu.

Hanya karena kamu mendapatkan kecupan dan pelukkan hangat dari orangtuamu, bukan berarti anak lain pun sama seperti yang kamu dapatkan.

Saya tidak tahu bagaimana kamu dibesarkan.

Saya juga tidak tahu bagaimana ibu dan ayahmu bercerita tentang betapa heroiknya perjuangan mereka untuk melahirkan serta membesarkanmu.

Tapi…

Bukankah itu memang sudah tanggungjawab mereka? itu memang kewajiban mereka. Mereka yang menginginkan seorang anak lahir dalam pernikahan mereka. Membesarkan anak, memanglah tugas mereka, bukan sebuah utang anak yang kelak harus dibayar.

Oke, kita mengenal sistem balas budi. Lalu, apa yang harus anak bayar dari tindak negatif dari orangtua yang bahkan tidak pantas menyandang gelar orangtua?

“Apakah kamu meminta dilahirkan?” adalah sebuah pertanyaan yang dulu selalu saya tanyakan di depan cermin. Tapi, jawabannya sampai kini masih, “Bisa saja, tapi untuk hadir dalam rahim itu bukan kemauan saya.”

Ya, terlahir kedunia ini adalah takdir, tapi apakah seorang anak berhak diperlakukan buruk, hanya karena membebani orangtua ? Memangnya siapa yang mau menjadi beban?

Orangtua menghadirkan anak, karena memenuhi tuntutan lingkungan dan ketika mereka terbebani, mereka menuduh anak yang membebani ? #konyol 

Kamu boleh saja, tidak mengalami masa-masa sulit seperti menahan lapar saat kecil, tapi bukan berati anak –anak lain pun tidak ada yang menahan lapar seperti kamu.

Kamu mungkin dibesarkan dengan pelukan dan dihujani kecupan sayang, tapi bukan berarti tidak ada anak yang dihujani makian dan kepalan tangan.

Saya memiliki pemikiran yang sama, seperti kak Kei Savourie ; Hormati orangtua yang memang layak dihormati, balas budilah pada orangtua yang tidak pernah menuntutmu membalas utang budi.

Kenapa begitu?

Karena orang yang berjasa adalah orang yang tulus memberi tanpa berharap imbalan. Orang yang hatinya penuh cinta dan bahagia. Apapun yang kita beri, akan diterimanya dengan syukur dan terima kasih, tanpa mengungkit apa yang mereka beri.

Sementara orang tamak, akan selalu mengungkit apa yang mereka beri sepanjang hayat dan tak akan puas terbayar.

Fiuh… Melelahkan dan tidak sebanding.

Jujur saja, saya pernah merasa iri, saat melihat teman saya didukung oleh orangtuanya untuk melakukan apapun yang membuatnya bahagia (dalam hal positif, tentunya) dan sampai sekarang orangtuanya membebaskan dia menjadi apapun yang dia mau, tanpa meminta apapun padanya.

“Liat si Teteh senyum aja udah bahagia, Tante mah” begitulah komentar ibu dari teman saya dan sangat berbeda dengan orangtua yang merasa berjasa.

Mungkin, kamu tidak mengerti.

Dan tidak perlu memaksa mengerti.

Hanya saja…

Saya ingin kamu menanggalkan jubah sempurnamu dan bertemulah dengan banyak orang yang tidak sama denganmu. Turunkan level-mu dan cobalah memposisikan diri menjadi mereka. Dengarkan cerita mereka tanpa menggurui apalagi menghakimi, hanya karena kamu tidak mengalami. Tahan diri  dan coba selami perasaan mereka.

Bersyukurlah karena kamu tidak mengalami hal seperti mereka dan tidak perlu tergoda untuk menasehati mereka.

Saya jadi teringat pada sebaris kalimat yang di ucapkan Buya pada Nilam dalam novel Habibie Ya Nour El Ain karya uni Maya Lestari GF.

“Nilam, kadang orang tak memerlukan banyak nasihat. Mereka cuma butuh melihat, bahwa mereka diterima dan disayangi. Kasih sayang adalah nasihat yang paling baik.”

 

Dan itu benar.

Tidak akan ada seorang pun yang akan tersentuh dengan nasihatmu sekalipun diawali “Alhamdulillah, saya tidak merasakan begitu. Tapi, sebagai blablabla.

Sudah saatnya kita belajar untuk menurunkan posisi dan mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh lawan bicara kita, tanpa menghakimi dan juga menasehati. Dengarkan dan terima mereka. Perlakukan mereka dengan baik dan tutur kata yang lemah-lembut.

Hei, kawan…

Tak ada hidup yang sempurna, karena itu tersenyumlah dan tak usah hiraukan orang-orang yang bertengger angkuh di tiang kesempurnaan hidupnya -yang-tentu-saja-mereka-pikir-sempurna. 😊

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s