Panggil aku, Silu!

Aku adalah anak sulung dari lima bersaudara yang tidak di desain untuk menikah oleh orangtuaku. Ya, mereka tidak mengharapkan aku menikah, karena jika aku menikah adik-adikku akan terlantar dan mereka terbebani lagi. Aku tidak bercanda apalagi berbohong, aku ini anak yang suka berterus-terang. 

Orangtuaku sudah berpisah.

Ayahku sudah menikah lagi dengan janda beranak satu. Ayahku, kerap mengeluh perihal piutangnya yang menumpuk, padahal di rumahnya hanya ada tiga orang. Suatu kali, dia pernah datang dan mengatakan bahwa di rumahnya tidak punya beras, istrinya sudah menjual kalung emasnya. Bibirku malah tersenyum sinis dan berkata ‘makanya, jangan nikah kalau hidup untuk sendiri saja susah.’ Setelah itu, habislah aku di maki-maki ayahku dan di labeli anak durhaka entah untuk keberapa kalinya.

Kalau kupikir-pikir, aku ini memang anak yang kurang ajar dan tidak ada hormat-hormatnya pada orangtua sendiri. Kalimat yang keluar dari mulutku ini selalu sarkas dan tanpa filter. Makanya, aku tidak terlalu terkejut jika mendengar adik bungsuku berkomentar sarkas. Aku malah senang dan menghadiahinya jempol serta usapan di kepalanya penuh kebanggaan.

Bagaimana dengan ibuku?

Beliau mau menikah dengan seorang pria yang memahkotai dirinya dengan gelar Ustadz. Pria borokokok itu sudah menipu ibuku yang bodoh dengan kepiawaiannya mengaji dan menipu istri pertamanya. Serius aku. Ibuku ini tipe wanita yang mudah sekali ditipu, makanya dia bertemu dengan ayahku yang tidak bisa diharapkan. Tapi, ibuku itu tetap keukeuh kalau dia itu pintar dan beralibi bahwa wanita itu dalam Islam memang ditakdirkan untuk di poligami. Bodoh betul kan, ibuku?

Kalau dipikir-pikir lagi, hidupku dan adik-adikku ini paling nestapa. Kami terlahir dari orangtua yang kekanak-kanakan, tapi ingin memiliki anak. Terus memproduksi sampai akhirnya terjatuh pada kemiskinan, karena ayahku itu pemalas. Dia tidak mau mencari nafkah dan hanya ingin tidur, makan, merokok saja. Hidup santai memang idaman.

Ketika bulan puasa begini, orang-orang mengeluhkan segala macam godaan puasa mereka. Tapi, tidak denganku dan juga adik-adikku. Kami ini sudah terlatih menahan lapar, baik itu lapar perut ataupun lapar mata. Maklum, kami ini anak yang membebani, merepotkan dan sering dianggap penyebab habisnya uang orangtua kami. Padahal, bukan kemauanku dan juga adik-adikku ini menjadi bagian dari anak lima bersaudara.

Oh, iya…

Panggil aku, Silu.

Karena aku, kisah hidup dan perkataanku tak akan membuat nyaman pendengaran. Bukan tidak mungkin, kamu akan terusik dan juga tercabik oleh apa yang aku ceritakan.

Saat ini, aku sedang kebingungan mencari tempat bernaung untukku dan juga adik-adikku. Menangis dan bersujud sudah seperti agenda bulan Ramadhan. Melihatku yang jatuh sakit dan terus berpikir agar semuanya teratasi, membuat si bungsu jatuh iba.

Suatu pagi di awal bulan Juni, si bungsu mencetuskan ide yang tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku.

“Teh, kita pindah ke Panti Asuhan aja, yuk!” katanya dengan sinar mata meredup.

Air mata menggenang di kedua mataku. Si bungsu menyadari sepenuhnya bahwa kami adalah anak yang terbuang. Anak-anak yang dilahirkan untuk diabaikan.

“Kok, gitu?” tanyaku menahan bulir air mata dengan nada suara tidak pasti.

“Aku takut, tapi kita ini kan ditelantarkan,” jawabnya dengan air mata yang terjatuh.

Aku memeluknya dan menangis bersama anak lelaki yang usianya sebentar lagi menginjak 9 tahun. Tidakkah hidup telah berlaku begitu keras padanya?

Aku, Silu…

anak perempuan yang tengah berjuang untuk hidupnya dan juga adik-adiknya.

 

 

 

Silu

a pilu ; rayu; rawan hati

a berasa tidak enak bagi pendengaran

Advertisements

4 thoughts on “Panggil aku, Silu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s