Aku dan Kehilangan

Tidak ada seorang pun yang tidak pernah mengalami kehilangan.

Aku pun bertanya-tanya tentang kehilangan apa yang membuatku merasa hampa dan kesakitan.

Kehilangan kamu? 

Ah, tidak. 

Untuk apa aku merasa kehilangan kamu yang sejatinya bukan milikku? 

Baiklah…memang ada yang berbeda, tapi kehilanganmu tak membuatku kesakitan. 😌

Kehilangan waktu?

Ah, ini adalah jenis kehilangan yang aku takuti. Aku takut kehilangan waktu untuk melakukan dan memberikan yang terbaik, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Kehilangan seseorang karena kematian? 

Semua orang pasti akan menghadapi kematian. Aku sudah mengalami kehilangan seorang adik yang di pagi harinya dia masih sehat dan tak ada tanda-tanda akan pergi. Firasat akan kepergiannya terbesit, saat aku menggendongnya dan dia menatapku kosong. Usianya baru 11 bulan, saat itu. Sedang lucu-lucunya dan menggemaskan. Tapi, begitulah dia harus segera berpulang. Dulu, aku merasa itu terlalu cepat dan bahkan tidak seharusnya terjadi, tapi sekarang aku merasa memang sebaiknya anak semanis adikku itu tidak perlu menghadapi kerasnya hidup kami saat ini. 😊

Kehilangan Nyawa? 

Aku pernah hidup tanpa memikirkan nyawaku. Duduk di atas motor dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Kecepatan yang semakin meningkat saat ada pengendara lain mengadu mesin. Ah, siapa sangka, aku pernah begitu beruntung. 

Namun, semua itu telah berlalu. Kini aku takut kehilangan nyawaku. Aku belum mempersiapkan dan memberikan yang terbaik untuk adik-adikku -terutama si bungsu. 

Lalu, apa yang membuatku merasa kehilangan hingga kesakitan?

Ada satu hal yang membuatku kesakitan hingga merekatkannya kembali membuatku menangis ; Jiwaku.

Ya, aku kehilangan jiwaku.

Menjadi perempuan itu tidak selalu menyenangkan. Kamu kehilangan suaramu dan dituntut untuk patuh. Celakanya lagi, aku ini anak pertama. Anak yang ditakdirkan untuk menyelesaikan cita-cita yang tak tergapai orangtua. Susah memang, jika menjadi anak dari orangtua yang berpikir bahwa anak itu sebuah proyek, bukan manusia yang punya perasaan dan pikirannya sendiri. 😟

Dulu, aku percaya bahwa aku ini ditakdirkan menjadi seorang pelukis. Aku benar-benar mencintai menggambar dan bereksperimen dengan warna. Di sekolah menjadi sorotan karena gambar dan warna yang tegas berani.

Kamu tahu, aku bahkan sempat mendapatkan bimbingan melukis gratis, setelah Pak Karsa melihat hasil gambarku. Aku mendapatkan bimbingan yang berbeda, setelah sketsa on the spot-ku berantakan. Aku tidak bisa menggambar di bawah tekanan, saat itu.

Menggambar di pasar dan di lihat orang banyak itu membuat keringatku mengalir deras. Maklum, dulu aku adalah anak yang pemalu dan tidak percaya diri. Hal ini karena orangtua yang selalu menyerang ‘keberhargaan diri’ku *dan ini menjadi motivasiku untuk meracuni anak-anak bahwa mereka berhak menjadi apa yang mereka mau dan pasti mampu meraih impian mereka 😜*

Saat itu, hidup terasa begitu menyenangkan. Menggambar, mendatangi pameran seni rupa, berbicang-bincang dengan para seniman dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama.

Sayangnya, itu tak berlangsung lama. Sayapku dicabut paksa dari punggungku. Aku tidak boleh menjadi seorang pelukis. Aku di desain untuk menjadi arsitek. Aku marah, tapi aku diam. Aku kesakitan dan menangis dalam diam. Setiap hari, bergelut dengan dunia yang tak pernah aku pikirkan. Dunia dengan garis dan ruang. Orang-orang bilang, arsitek itu keren. Aku rasa arsitek itu mengubah dirimu menjadi zombie.

Mungkin karena aku tidak menyukainya, maka aku benar-benar kepayahan. Memikirkan ruang, bentuk, pola aktivitas, dimensi, besaran kolom, besaran balok, peraturan daerah, kondisi lingkungan sekitar, rabat, pembuangan limbah, sumur resapan dan masih banyak lagi yang harus aku pikirkan.

Berbicara dengan teman-temanku di jurusan, tak selalu membuatku senang. Mereka selalu membicarakan teknologi bahan terbaru, desain facade tugas mereka, perhitungan dan pertimbangan denah beserta desain tampak bangunannya. Sesekali membicarakan arsitek A, B, C.

Berada diantara mereka yang mengepakkan sayap dan bersiap terbang tinggi itu benar-benar menyesakkan. Membuat kamu, sepenuhnya sadar bahwa kamu hanyalah seseorang yang cacat daripada makhluk asing. Kamu terasing bukan hanya karena kalah saing, tapi juga kalah taring.

Saat itu, aku benar-benar tidak berdaya.

Semua tertawa bahagia karena semakin dekat dengan impiannya. Sementara aku tertatih-tatih menyelesaikan studi-ku yang mahal dan menguras segalanya.

Kamu tahu, langit pernah seakan-akan runtuh menimpaku, saat Pak Karsa mengatakan, beliau sempat mencariku untuk dibawa pameran di Jepang.

Saat itu, aku merasakan penyesalan yang luar biasa. Aku menangis dan merutuki ketidakberdayaan sebagai seorang anak perempuan penurut. Andai aku bersikeras memegang teguh jiwaku yang bebas tak terbentur ruang dan ukuran, aku pasti bahagia. Sayang, air mata tak mengubah apapun. Aku tetap menjalani hidup dengan jiwa yang kosong. Membuat denah/ fasade arsitektur hanya berdasarkan fungsi bangunan saja atau bahasa kerennya ‘form follow function’.

Akhirnya, aku sampai di titik muak. Aku lulus dengan ipk di atas 2,75 dan aku berjalan untuk mengisi kembali jiwaku serta menumbuhkan kembali sayapku yang disunat paksa oleh orangtua. Orangtua yang tidak menyukai keputusanku dan berusaha mendesain kembali hidupku dengan apa yang diinginkannya.

Aku menolak dan aku pun di tinggalkan dengan segala sumpah serapah sebelumnya. Aku bergeming dan sulur-sulur ketakutan menjalari tubuh, berusaha menguasai jiwa agar tidak lagi bermimpi.

Aku hampir goyah, tapi penderitaan menolak diteruskan.

Tertunduk menatap telapak tangan yang mengepal dipangkuan kaki. Sudah ku putuskan, untuk berpegang teguh pada diri sendiri dan hidup bahagia seperti apa yang aku mau.

Aku mungkin kehilangan dukungan orangtua, tapi aku tidak boleh kehilangan jiwaku lagi.

Sekian cerita hari ini.

Semuanya menjadi campur aduk, karena aku tidak begitu pandai memaknai kehilangan.

 

“Kadang kita hanyalah jiwa yang bisu. Tak mampu berkata kemudian menipu. Berharap baik-baik saja, padahal sakit di jiwa. Bilang tak apa-apa, tapi berharap tatapan mengapa”

-Rohmatikal Maskur-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s