Apakah Saya Boleh Tidak Berdoa ?

“Apakah saya boleh tidak berdoa?”

Buya menatapku sejenak.

“Tentu saja boleh, Barra. Kamu boleh bila tidak ingin bercakap-cakap pada Tuhan. Kamu juga boleh bercakap-cakap dengan Dia. Kamu boleh memalingkan wajahmu. Kamu juga boleh menghadapkan wajahmu hanya pada-Nya,” Buya tersenyum.

“Kamu mau atau tidak, kamu toh tetap makhluk-nya. Tetap akan dipelihara-Nya. Tetap akan kembali pada-Nya.”


Itu adalah penggalan dari isi novel Habibie Ya Nour El Ain halaman 115, karya Maya Lestari GF.

Saya tidak bermaksud untuk menceritakan tentang novel itu, sih. Saya ingin bercerita tentang perasaan saya yang tidak ingin atau tidak tahu lagi harus berdoa apa. Semuanya terasa begitu kosong, tapi ada yang mendobrak membutuhkan pertolongan. Kemarin saya benar-benar berada di titik hampa. Sebuah titik yang membuat saya merasa berdoa-pun percuma.

Iya, saya tahu. Pertolongan Allah itu tidak disangka-sangka dan tidak ada yang percuma dari doa-doa yang diterbangkan ke atas.

Untuk kali pertama, saya merasakan pergolakan batin yang hebat. Saya ingin menyerah, tapi tubuh dan otak saya menolak untuk kalah. Hati saya menangis perih, tapi air mata terlalu angkuh untuk mengalir. Saya merasa tidak berdaya sekaligus tahu bahwa saya mampu berjuang. Saat itu saya benar-benar terbelah. Terombang-ambing dalam perahu lelucon hidup di lautan ketidakpastian. Tidak ada pulau untuk berlabuh, tidak ada persediaan makanan untuk mengisi tenaga. Kamu hanya tahu, bahwa mendayung tanpa arah pasti, membuatmu bisa tetap hidup atau mati.

Saya bukan orang yang berjalan tanpa rencana cadangan. Terkadang saya terlalu berhati-hati, hingga langkah saya menjadi tertinggal. Seandainya saja tidak ada kehidupan lain yang harus saya pastikan baik-baik saja, tentu saya akan dengan angkuh melangkah kemanapun yang saya mau. Tak peduli, saya akan jatuh tersungkur atau mati terkubur.

Saat melihat langit begitu biru, tanpa awan. Saya bertanya dan berbincang dalam hati; Ya Allah, apa yang harus saya minta dari-Mu? Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Kami anak-anak yang terbuang. Bagaimana aku bisa mempertahankan hidupku dan adik-adikku? Apa saya mampu? Apa saya bisa? Tidakkah saya benar-benar payah?

Sebuah pesawat melintas. Menjadi iklan dalam perbincangan saya dengan pemilik alam semesta. Saya selalu tahu bahwa saya selalu mampu melewati apapun. Tapi, bagaimana dengan adik-adik saya? Apakah mereka mampu dan bisa bertahan melawan lelucon hidup ini?

Kamu tahu, menjadi seseorang yang memikirkan dan mengkhawatirkan orang lain itu menyebalkan. Mengabaikan dan tidak peduli, malah menyakiti dirimu. Membuatmu merasa bersalah daripada merasa bahagia.

“Katanya, doa orang yang terdzholimi dan tengah berpuasa itu di ijabah oleh-Mu. Apakah jika saya berdoa dan meminta, Engkau akan mengabulkannya? Jika begitu, untuk apa saya berdoa? Bukankah Engkau tahu yang terbaik untuk semuanya? Apakah ini yang terbaik untuk saya atau Engkau hanya benar-benar tengah bercanda dengan saya?” begitulah aku bertanya pada Sang Pencipta dalam benak.

Lalu, saya teringat pada ucapan Buya dalam novel yang di tulis Uni Maya. Tentang bagaimana Tuhan tetap akan memelihara kita meskipun kita sering melupakannya. Kepala saya memutar semua bayangan orang-orang yang mesti saya perjuangkan kehidupannya.

Dan…

Sekali lagi, saya tahu bahwa saya pasti mampu. Saya pasti bisa menemukan jalan keluar terbaik dengan resiko sekecil mungkin. Merapatkan jari dan menempelkan kedua telapak tangan yang menegadah kelangit, melantunkan rapalan doa penuh harap untuk yang terbaik.

Tak apa jika kita tidak berdoa, tapi usaha tanpa harapan itu kosong dan berharap tanpa usaha pun kosong. Memang yang terbaik adalah berjalan dengan mengandeng keduanya, bersamaan 😘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s